A. Latar Belakang Masalah
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur derajat kesehatan ibu serta efektivitas pelayanan kesehatan maternal di suatu wilayah. Secara nasional, Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023 mencatat jumlah kematian ibu mencapai 194 per 100.000 kelahiran hidup. Tingginya angka tersebut didominasi oleh lain-lain sebesar 70,7%, diikuti hipertensi sebesar 10,3% dan perdarahan obstetrik sebesar 9,0%. Selain itu, kematian ibu juga disebabkan oleh komplikasi obstetrik lain sebesar 5,1%, infeksi sebesar 2,2%, komplikasi abortus sebesar 1,1%, komplikasi manajemen yang tidak terantisipasi sebesar 1,1%, serta komplikasi non obstetrik sebesar 0,5%. Kondisi tersebut sejalan dengan situasi di tingkat regional, di mana Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2024 mencatat Angka Kematian Ibu mencapai 427 kasus atau setara dengan rasio 74,73 per 100.000 kelahiran hidup. Serupa dengan tren nasional, penyebab kematian ibu di Jawa Tengah didominasi oleh faktor lain-lain sebesar 48,2%, hipertensi 30,0%, perdarahan 15,5%, infeksi 5,6%, dan komplikasi pasca abortus 0,7%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar penyebab kematian ibu seperti hipertensi dan perdarahan, yang berkaitan dengan komplikasi selama kehamilan dan persalinan, terutama pada ibu dengan kehamilan risiko tinggi. Kehamilan risiko tinggi merupakan kondisi yang disertai faktor tertentu seperti status gizi, usia, paritas, serta riwayat kehamilan dan persalinan yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi. Salah satu faktor penting dalam kehamilan risiko tinggi adalah Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kondisi ini dapat meningkatkan risiko anemia, perdarahan, serta persalinan prematur. (Hanifah et al., 2024).
Di Provinsi Jawa Tengah, kejadian KEK pada ibu hamil masih ditemukan meskipun menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2024, terdapat 6.596 ibu hamil mengalami KEK dari total 434.071 ibu hamil (1,52%), menurun dari 7,0% pada tahun 2021 menjadi 2,5% pada tahun 2023. Meskipun mengalami penurunan, KEK tetap menjadi perhatian karena berdampak pada kesehatan ibu dan janin. Ibu hamil dengan KEK berisiko mengalami anemia, perdarahan, serta melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) dan panjang badan lahir yang pendek. Kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak sejak periode kehamilan. Penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil dengan KEK berisiko melahirkan bayi BBLR, sedangkan BBLR dan panjang badan lahir pendek merupakan kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting pada masa balita (Benny et al., 2024; Yunita, Krisnasary and Suryani, 2024).
Hubungan tersebut menunjukkan bahwa masalah KEK pada ibu hamil tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi ibu selama kehamilan dan persalinan, tetapi juga dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan anak. Kekurangan asupan energi dan zat gizi selama kehamilan dapat menyebabkan pertumbuhan janin tidak optimal sehingga meningkatkan risiko terjadinya hambatan pertumbuhan intrauterin, BBLR, serta panjang badan lahir yang pendek. Bayi yang lahir dengan kondisi tersebut memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan pertumbuhan pada periode berikutnya, termasuk stunting. Oleh karena itu, pencegahan stunting perlu dilakukan sejak masa kehamilan melalui deteksi dan penatalaksanaan KEK, pemenuhan kebutuhan gizi ibu, pemantauan pertumbuhan janin, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi setelah lahir.
Selain faktor gizi, kehamilan risiko tinggi juga dipengaruhi oleh faktor reproduksi seperti jarak kehamilan yang terlalu dekat, paritas tinggi (grandemultipara), serta riwayat persalinan dengan seksio sesarea. Jarak kehamilan yang terlalu dekat menyebabkan cadangan energi dan zat gizi ibu belum pulih secara optimal, sehingga meningkatkan risiko anemia dan perdarahan, yang merupakan penyebab utama kematian ibu. Paritas tinggi juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko komplikasi seperti perdarahan postpartum, atonia uteri, serta gangguan fungsi reproduksi yang dapat memperburuk kondisi ibu saat persalinan (Rusdahyanti, Palimbo dan Hidayah, 2022). Sementara itu, riwayat persalinan dengan Sectio Caesarea (SC), terutama dengan jarak kehamilan kurang dari dua tahun, meningkatkan risiko ruptur uteri, infeksi, dan perdarahan akibat belum optimalnya proses penyembuhan jaringan rahim. Kondisi-kondisi tersebut merupakan faktor penyebab langsung maupun tidak langsung yang berkontribusi terhadap meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI), karena berkaitan erat dengan terjadinya komplikasi obstetri seperti perdarahan, infeksi, dan kegawatdaruratan persalinan (Andriani, Nugraheni and Pradigdo, 2025).
Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa kondisi KEK dan risiko reproduksi yang menyertainya perlu diidentifikasi sejak dini, karena apabila tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat, maka berpotensi berkembang menjadi kegawatdaruratan obstetri yang dapat mengancam keselamatan ibu dan janin. Oleh karena itu, deteksi dini melalui pelayanan antenatal care yang berkualitas serta pemantauan berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu (Kementrian Kesehatan, 2020). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa faktor seperti umur ibu, paritas, jarak kehamilan, riwayat persalinan prematur, dan preeklampsia berhubungan dengan kejadian kehamilan risiko tinggi serta berpotensi meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu maupun janin (Holila et al., 2023). Hal ini menunjukkan pentingnya identifikasi faktor risiko sejak awal untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat.
Salah satu faktor obstetri yang dapat menjadi indikasi dilakukannya Sectio Caesarea adalah letak lintang. Letak lintang merupakan kondisi ketika sumbu panjang janin berada melintang terhadap sumbu panjang uterus sehingga bagian terendah janin tidak berada pada posisi yang memungkinkan terjadinya persalinan pervaginam. Apabila letak lintang menetap hingga mendekati persalinan, persalinan pervaginam tidak dapat dilakukan secara normal karena dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti prolaps tali pusat, trauma persalinan, dan kegawatdaruratan maternal maupun neonatal. Oleh karena itu, Sectio Caesarea menjadi salah satu pilihan metode persalinan pada kehamilan dengan letak lintang yang menetap (Rosyati, 2022).
Selain letak lintang, riwayat persalinan Sectio Caesarea dengan jarak kehamilan kurang dari dua tahun juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan metode persalinan. Jarak kehamilan yang terlalu dekat setelah persalinan Sectio Caesarea dapat meningkatkan risiko komplikasi pada kehamilan berikutnya, termasuk risiko gangguan pada jaringan parut uterus. Oleh karena itu, kondisi tersebut memerlukan pemantauan kehamilan dan perencanaan persalinan secara lebih cermat. Apabila terdapat faktor obstetri lain, seperti letak lintang yang menetap, maka kedua kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan persalinan melalui Sectio Caesarea
Persalinan melalui Sectio Caesarea (SC) terus menunjukkan peningkatan secara global, dengan proporsi mencapai sekitar 21% dari seluruh kelahiran pada tahun 2021. Di Indonesia, angka persalinan SC juga tergolong cukup tinggi, yaitu sebesar 15,3% berdasarkan survei terhadap 20.591 ibu dari 33 provinsi yang melahirkan dalam lima tahun terakhir(Amalia and Aslina, 2025). Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa tindakan SC semakin sering digunakan, terutama pada kehamilan dengan faktor risiko tertentu. Kondisi tersebut juga terlihat di tingkat pelayanan kesehatan Kabupaten Pekalongan. Berdasarkan data rekam medis RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan tahun 2026, terdapat 414 persalinan dengan Sectio Caesarea dari total 572 persalinan atau sebesar 72,38%. Data tersebut menunjukkan bahwa persalinan melalui Sectio Caesarea merupakan salah satu metode persalinan yang cukup banyak dilakukan di RSUD Kajen. Tingginya angka tersebut memperlihatkan bahwa berbagai kondisi maternal dan obstetri yang memerlukan tindakan operatif masih menjadi bagian penting dalam pelayanan persalinan, termasuk letak janin yang tidak memungkinkan persalinan pervaginam dan ibu dengan riwayat persalinan Sectio Caesarea.
Setelah proses persalinan, masa nifas menjadi periode yang tidak kalah penting karena masih memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya komplikasi pada ibu. Ibu dengan riwayat persalinan Sectio Caesarea (SC), terutama dengan kondisi risiko tinggi seperti Kekurangan Energi Kronis (KEK), memiliki kemungkinan lebih besar mengalami komplikasi seperti infeksi luka operasi, perdarahan, serta keterlambatan proses involusi uterus(Amalia and Aslina, 2025). Kondisi ini dapat diperparah apabila pemenuhan nutrisi tidak adekuat, sehingga proses pemulihan menjadi lebih lama dan meningkatkan risiko morbiditas ibu (Safitri and Rosida, 2020). Oleh karena itu, pemantauan masa nifas melalui kunjungan nifas, perawatan luka, serta pemenuhan kebutuhan nutrisi menjadi sangat penting dalam upaya mencegah komplikasi yang dapat berkontribusi terhadap Angka Kematian Ibu (AKI).
Selain itu, kondisi ibu selama kehamilan dan persalinan juga berpengaruh terhadap kesehatan bayi baru lahir (BBL). Bayi yang dilahirkan dari ibu dengan kondisi risiko tinggi seperti KEK dan komplikasi persalinan, termasuk persalinan dengan tindakan SC, memiliki risiko lebih tinggi mengalami bayi berat lahir rendah (BBLR), prematuritas, asfiksia, serta infeksi(Suryanti, Wicaksono and Pariani, 2020). Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya Angka Kematian Bayi (AKB). Oleh karena itu, diperlukan pemantauan kesehatan bayi melalui kunjungan neonatal (KN1, KN2, KN3), pemberian ASI eksklusif, serta deteksi dini komplikasi guna menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang bayi secara optimal (Kemenkes RI, 2021).
Berdasarkan data tahun 2024, Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Pekalongan tercatat sebanyak 18 kasus, yang menempatkan Kabupaten Pekalongan pada peringkat kelima tertinggi di Provinsi Jawa Tengah. Selain AKI, Angka Kematian Bayi (AKB) juga masih menjadi permasalahan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, di mana berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Pekalongan Tahun 2024 tercatat sebanyak 158 kasus yaitu disebabkan oleh Asfiksia (40%), BBLR dan Preamturitas (26%), Kelainan Kongenital (17%), lain-lain (8%), Infeksi (6%), dan kelainan Cardiovaskular dan respiratori (3%) dari data tersebut menunjukkan bahwa beban masalah kesehatan maternal dan neonatal di Kabupaten Pekalongan masih cukup besar, sehingga memerlukan intervensi yang tepat melalui pelayanan kebidanan yang optimal.
Berdasarkan data Puskesmas Wonopringgo Tahun 2025, dari total 303 ibu hamil terdapat 25 ibu dengan jarak kehamilan yang terlalu dekat (8,3%), 10 ibu dengan grandemultipara (3,3%), 15 ibu dengan riwayat Sectio Caesarea (5,0%), dan 20 ibu dengan riwayat obstetri jelek (6,6%). Selain itu, terdapat 85 ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) atau sebesar 28,1%, yang menunjukkan bahwa permasalahan gizi ibu hamil masih menjadi tantangan dalam pelayanan kesehatan maternal di wilayah kerja Puskesmas Wonopringgo.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk menyusun Laporan Tugas Akhir dengan judul “Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. U di Desa Kwagean, Wilayah Kerja Puskesmas Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan
Abubakar, M.L. (2024) Asuhan Neonatus dan Bayi. Cilacap: PT Medika Pustaka Indo.
Akhfar, K. et al. (2024) “Faktor risiko kekurangan energi kronik (kek) pada ibu hamil,” Jurnal Pengabdian Komunitas, 6(2), pp. 17–27.
Amalia, S. and Aslina, W.I. (2025) “Faktor - faktor yang berhubungan dengan persalinan sectio caesarea,” 6, pp. 9462–9472.
Ambesh, P. and Obiagwu, C. (2017) “Homan’s sign for deep vein thrombosis: A grain of salt?,” Indian Heart Journal, 69, pp. 418–419.
Andriani, S., Nugraheni, S.A. and Pradigdo, S.F. (2025) “Dampak Riwayat Kehamilan Berisiko Terhadap Bayi Yang Dilahirkan?: Scoping Review,” 9, pp. 6392–6400.
Arlenti, L. and Zainal, E. (2017) Manajemen pelayanan kebidanan. Jakarta: PT Medika Pustaka Indo.
Aryani, I. et al. (2021) “Pengaruh Pemberian Ubi Jalar Ungu Terhadap Kenaikan Berat Badan Pada Ibu Hamil Dengan Kurang Energi Kronik,” Jurnal Sosial dan Teknologi (SOSTECH), 02(12), pp. 1346–1353.
Azhari, A. et al. (2024) Buku Ajar Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi Balita dan Anak Pra-sekolah. Jakarta: Nuansa Fajar Cemerlang.
Azizah, N. and Rosyidah, R. (2019) Buku Ajar Mata Kuliah Asuhan Kebidanan NIfas dan Menyusui. Sidoarjo: UMSIDA Press.
Azizah, R., Khairunnisa, N. and Fajriana, E. (2025) “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Resiko Kehamilan,” Journal of Language and Health, 6, pp. 263–270.
Cholifah, S. and Rinata, E. (2022) Buku Ajar Buku Ajar Kuliah Asuahan Kebidanan Kehamilan. 1st ed. Sidoarjo: UMSIDA Press.
Dwi Fara, Y. et al. (2022) “Gizi Seimbang Pada Ibu Hamil,” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Ungu( ABDI KE UNGU), 4(3), pp. 170–174. Available at: https://doi.org/10.30604/abdi.v4i3.757.
Elsera, C., Murtana, A. and Oktaviani, U.S. (2022) “Faktor Penyebab Kekurangan Energi Kronik ( KEK ) Pada Ibu Hamil,” Pengabdian Masyarakat, 1098, pp. 20–40.
Fatimah and Nuryaningsih (2018) Buku Ajar Buku Ajar Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Fibrila, F. et al. (2022) “Faktor Dominan Penyebab Kejadian Kekurangan Dominan Factors Causing Chronic Energy,” Jurnal Kesehatan dan Pembangunan, 9, pp. 1–16.
Fitrianingtyas, I., Pertiwi, F.D. and Rachmania, W. (2018) “FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KURANG,” 6(2).
Fitriyani, A.B., Verdiawati, F.B. and Listiyaningsih, M.D. (2024) “Mobilisasi Dini pada Ibu Post Operasi Sectio Caesaria untuk Mencegah Komplikasi Imobilisasi di Rumah Sakit Ken Saras,” Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo, 3(2), pp. 2181–2184.
Hanifah, L. et al. (2024) “Pendampingan Ibu Hamil Dengan Resiko Tinggi Kehamilan,” Jurnal Pengabdian Komunitas, 03(04), pp. 16–23.
Hasyim, H. et al. (2023) “Faktor Faktor yang Berhubungan Dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK ) pada Ibu Hamil,” Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat (JURIBMAS), 7(1), pp. 87–92.
Hatijar, Saleh, I.S. and Yanti, L.C. (2020) Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Edited by M. Yunus. Gowa.
Heryunanto, D. et al. (2022) “GAMBARAN KONDISI KEKURANGAN ENERGI KRONIS PADA IBU,” Jurnal Kesehatan dan Pembangunan, 6, pp. 1792–1805.
Holila et al. (2023) “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kehamilan,” Jurnal Kesehatan dan Pembangunan, 13(25).
Israyati, N. (2020) Gizi dalam kesehtaan reproduksi bagi mahasiswa kebidanan. Pekanbaru: STIKES Hang Tuah.
Jamil, S.N., Sukma, F. and Hamidah (2017) Asuhan Kebidanan Pada Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah. 1st ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Kasmiati (2023) Asuhan Kebidanan Masa Nifas. 1st ed. Edited by A.N. Zarkasyi and F. Noufal. Malang: CV. Literasi Nusantara Abadi.
Kasmiati et al. (2023) Asuhan Kehamilan. 1st ed. Edited by I.A. Putri. Malang: PT. Literasi Nusantara Abadi Grup.
Kemenkes (2020) Pedoman pelayanan antenatal, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.
Kemenkes (2022) Profil kesehatan indonesia 2022. Jakarta.
Kemenkes RI (2020) Pedoman Pelayanan Antenatal, Persalinan, Nifas, dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Kemenkes RI (2021) Pedoman Gizi Seimbang Ibu Hamil dan Ibu Menyusui. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/165/2023 tentang Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Jakarta.
Kesehatan, K. (2020) Pedoman pelayanan antenatal terpadu.
Khoiriyah, A.U. (2023) “Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny . N Dengan Kek Dan Riwayat,” Jurnal Kebidanan Terkini, 03, pp. 10–18.
M Faradisy, R., H Umrotul, D. and Fadhila, F. (2025) “Pengaruh Skrining Antenatal Care dengan Menggunakan Kartu Skor Poedji Rochjati (KSPR) Terhadap Rujukan Terencana di Wilayah Kerja Puskesmas Omben,” Health Sciences Journal, 9, pp. 145–154.
Mariyona, K. (2019) “Komplikasi dan Faktor Resiko Kehamilan di Puskesmas,” Jurnal Menara Medika, 1(2), pp. 109–116.
Marsanda, F. et al. (2023) “Asuhan kebidanan pada ibu hamil fisiologis,” Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 1, pp. 143–152.
Maryani, D. (2019) “Suplementasi Vitamin A Bagi Ibu Post Partum dan Bayi,” Jurnal Fakultas MIPA Universitas Bengkulu, 6(1), pp. 9–15.
Masyarakat, K., Ibu, H. and Partum, P. (2025) “Penerapan mobilisasi dini pada pasien post sectio caesarea untuk mempercepat pemulihan dan kualitas hidup ibu post partum 1,2,” pp. 81–91.
Mutmainah, R., Sustiyani, E. and Sulaiman, L. (2025) “EDUKASI IBU HAMIL TENTANG RESIKO KEKURANGAN ENERGI KRONIS ( KEK ) PADA KEHAMILAN,” 3, pp. 385–389. Available at: https://doi.org/10.58540/sambarapkm.v3i2.811.
Norviatin, D. et al. (2021) “Malnutrisi dan Anemia pada Kehamilan,” Tunas Medika Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 08(1), pp. 1–6.
Nuzuliana, R. and Ratnaningsih, S. (2021) Modul Dasar Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi dan Balita. Yogyakarta: Universitas Aisyiyah Yogyakarta.
Putri, A.A. et al. (2023) “Dampak Penyakit KEK Pada Ibu Hamil,” Jurnal Kebidanan Terkini ( Current Midwifery Journal) 275 Jurnal Kebidanan Terkini (Current Midwifery Journal, 1(3), pp. 21–28.
Rahmadhani, S.P. et al. (2024) Buku Ajar Fisiologi Kehamilan, Persalinan, Nifas, dan Bayi Baru Lahir (BBL). 1st ed. Edited by I. Zumarano and H. Syaukani. Jakarta: PT Nuansa Fajar Cemerlang.
Riandari, Susilaningsih and Agustina, W. (2020) “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesaria,” Profesioanl Health Journal, 2(1), pp. 22–37.
Rimadeni, Y. et al. (2022) “Asuhan Keperawatan dengan Ibu Post Sectio Caesarea,” Jurnal Keperawatan, 1(2), pp. 115–129.
Rizki, N.V.R.M. et al. (2025) “Analisis Dampak Kehamilan Resiko Tinggi Pada Ibu Hamil Usia >35 tahun di Puskesmas Bangetayu Semarang,” Jurnal Kesehatan Arrahma, 2(2), pp. 11–18. Available at: https://journal.stikesami.ac.id/index.php/jka .
Rochmawati, R., Wahyutri, E. and Noorma, N. (2023) “Hubungan Kehamilan Risiko Tinggi Dengan Kejadian Neonatus Risiko Tinggi di RSUD Taman Husada Bontang,” Jurnal Cakrawala Ilmiah, 3, pp. 1039–1050.
Rusdahyanti, W.S., Palimbo, A. and Hidayah, N. (2022) “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Komplikasi Perdarahan Pada Ibu Post-Partum Di Ruang VK RSUD DR. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2022,” 5, pp. 236–246.
Rustikayanti, R.N., Kartika, I. and Herawati, Y. (2016) “Perubahana Psikologis ibu hamil Trimester III,” the Southest Asian Jurnal of Midwifery, 2, pp. 45–49.
Safitri, M. and Rosida, L. (2020a) Indikasi Persalinan Sectio Caesarea dan Komplikasi Pasca Persalinan Sectio Caesarea:Narrative Review.
Safitri, M. and Rosida, L. (2020b) “KOMPLIKASI PASCA PERSALINAN SECTIO CAESAREA,” pp. 10–20.
Sagala, J.V. (2025) “Perbandingan Efektivitas Pemberian Ikan Gabus Dengan Putih Telur Terhadap Penyembuhan Luka Post Section Caesarea di Rumah Sakit Horas Insani Tahun 2023 J,” Jurnal Sains Student Research, 3(6), pp. 115–129.
Salsabila, S. et al. (2025) “Pengaruh Konsumsi Telur Ayam Rebus Terhadap Peningkatan Berat Badan Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK),” pp. 29–36.
Sitawati et al. (2021) Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Untuk Ibu dan Generasi. 1st ed. Edited by A. Shobari, S.H. Fatimah, and A. Faisal. Jakarta: PT Nuansa Fajar Cemerlang.
Sulistianingrum, L. (2023) “Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Dengan Kejadian Kurang Energi Kronis (KEK),” jurnal kebidanan, 3(4), pp. 217–221.
Surahmat, R. et al. (2023) “Pentingnya Pola Asuh Terhadap Sibling Rivalry Pada Anak,” Jurnal Kesehatan Medika Saintika, 14, pp. 127–133.
Suryanti, Wicaksono, B. and Pariani, S. (2020) “Faktor Ibu Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Janin Terhambat.pdf,” Indonesian Journal Of Health, 1, pp. 13–20.
Susanti, T. (2021) “Hubungan Paritas dan Kehamilan Prematur Pada Ibu Bersalin Dengan Letak Lintang,” Jurnal Kesehatan Wira Buana, 9, pp. 1–11.
Syaputra, D. et al. (2022) Ilmu Kebidanan. Bandung: CV. Media Sains Indonesia.
Tarigan, D.A. and Elisabet, I. (2020) Fisiologis Kehamilan dan Persalinan. Bogor: Zemawa Media Giditama.
Ulpawati, Susanti and Jannah, M. (2022) “Perawatan Luka Bedah Kebidanan Upaya Pencegahan Infeksi Pada Pasien Post Sectio Caesarea,” Zona Kebidanan, 12(2), pp. 55–64.
Ulya, Y., Ariendha, D.S.R. and Zulfiana, Y. (2020) Fisiologi kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir. Mataram: STIKES Yarsi Mataram.
Umaroh, Suparmi and Musthofa Budi, S. (2024) “Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Nifas terhadap Praktik Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masa Nifas The Relationship between Knowledge and Attitudes of Postpartum Mothers towards the Practice of Fulfilling Basic Needs during Postpartum Period,” 11(2), pp. 117–125.
Wahyuni, S., Wahab, M. and Renil, G. (2022) “Studi Kasus Kebidanan Pada Ibu Multipara Dengan Post Sectio Caesarea,” Jurnal Kesehatan, XV(2), pp. 49–58.
Wahyuningsih, H.P. (2018a) Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. 1st ed. Edited by F. Zamil and R. Mawardi. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Wahyuningsih, H.P. (2018b) Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Wheni and Widyaningrum (2022) Determinan Kejadian Persalinan Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Daerah Muntilan Kabupaten Magelang. Yogyakarta.
WHO (2016) WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience. World Health Organization.
Winarsih and Luluk, D. khusnul (2025) “1* , 2 1-2,” 8(November 2024), pp. 3094–3106.
| Properti | Nilai Properti |
|---|---|
| Organisasi | Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan |
| umpp.pekalongan@yahoo.com | |
| Alamat | Jl. Raya Pekajangan No. 1A Kedungwuni Pekalongan |
| Telepon | (0285) 7832294 |
| Tahun | 2026 |
| Kota | Pekalongan |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Negara | Indonesia |