Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan, dengan AKI sekitar 189 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2024 berdasarkan sensus penduduk yang tersedia. AKI merupakan indikator penting dalam menilai derajat kesehatan ibu serta kualitas pelayanan kesehatan maternal, dengan penyebab kematian yang meliputi faktor langsung seperti perdarahan obstetri dan hipertensi kehamilan, serta faktor tidak langsung seperti anemia, penyakit kardiovaskular, dan infeksi. Percepatan penurunan AKI dilakukan dengan memastikan setiap ibu memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Pelayanan tersebut mencakup pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih, perawatan ibu dan bayi setelah persalinan, penanganan serta rujukan komplikasi, dan pelayanan keluarga berencana (KB), termasuk KB pasca persalinan. (Profil Kesehatan Indonesia, 2024).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, pada tahun 2025 adalah 112,33/100.000 Kelahiran Hidup. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2024 sebesar 152,25/100.000 Kelahiran Hidup. AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. Sensitivitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan. bahwa Angka Kematian Ibu di Kabupaten Pekalongan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir mengalami fluktuasi dimana terjadi penurunan kasus pada tahun 2021 sebanyak 27 kasus menjadi 21 kasus pada tahun 2022, sedangkan pada tahun 2023 naik menjadi 34 kasus, namun turun pada tahun 2024 menjadi 18 kasus dan turun lagi pada tahun 2025 menjadi 13 kasus Angka Kematian Ibu. Penyebab kematian ibu di Kabupaten Pekalongan paling banyak dikarenakan Komplikasi Non Obstetrik sebanyak 8 kasus (62 %), kemudian penyebab kedua karena Perdarahan Obstetrik sebanyak 3 kasus (23%), dan penyebab ketiga karena menderita hipertensi dalam kehamilan, persalinan dan nifas sebanyak 2 kasus (15%). Hal ini berarti penyebab kematian ibu di Kabupaten Pekalongan didominasi oleh faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan kondisi penyakit penyerta (bukan langsung dari proses persalinan) dan komplikasi kehamilan (Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, 2025).
Jarak kehamilan yang kurang dari 2 tahun merupakan salah satu faktor risiko dalam kehamilan. Kondisi ini menyebabkan tubuh ibu belum pulih sepenuhnya dari kehamilan dan persalinan sebelumnya, baik dari segi kondisi fisik, status gizi, maupun cadangan zat besi. Kehamilan yang terlalu dekat dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia, perdarahan, persalinan prematur, bayi berat lahir rendah, serta komplikasi obstetri lainnya. Risiko tersebut dapat berujung pada meningkatnya angka kesakitan dan kematian ibu apabila tidak mendapatkan pemantauan dan penanganan yang adekuat. Oleh karena itu, pengaturan jarak kehamilan minimal 2 tahun sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi.
Asuhan kebidanan komprehensif merupakan Pelayanan kebidanan berkesinambungan adalah pelayanan yang diberikan secara menyeluruh dan terus-menerus kepada ibu sejak masa kehamilan, proses persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Tujuan pelayanan ini yaitu untuk mendeteksi komplikasi sedini mungkin, menurunkan risiko kesakitan dan kematian pada ibu maupun bayi, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sesuai standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pelayanan tersebut mencakup enam kali pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan normal yang aman, empat kali kunjungan pada masa nifas, tiga kali kunjungan neonatal, serta konseling dan pelayanan kontrasepsi pada program keluarga berencana(Sulastri and Keb, 2025).
Dalam konteks penanganan Anemia, asuhan kebidanan komprehensif memiliki peran yang strategis karena mampu mengidentifikasi masalah secara dini, memberikan intervensi yang tepat, melakukan monitoring berkelanjutan, dan melibatkan keluarga serta masyarakat dalam proses penyembuhan. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi kebidanan yang menekankan pada pencegahan, promosi kesehatan, dan pemberdayaan Perempuan.
Pengakhiran dari kehamilan dengan KPD adalah salah satunya persalinan salah satunya yaitu dengan induksi atau SC , karena mempertimbangkan dari dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada ibu dan neonatus, persalinan prematur, hipoksia akibat penekanan tali pusat, kelainan bentuk janin, serta meningkatnya kemungkinan tindakan seksio sesarea maupun kegagalan persalinan pervaginam. Pada ibu, komplikasi yang sering terjadi adalah korioamnionitis, sedangkan pada bayi dapat muncul infeksi seperti septikemia, pneumonia, dan omfalitis. Umumnya, korioamnionitis terjadi lebih dahulu sebelum infeksi mengenai janin. Selain itu, kejadian infeksi lebih banyak ditemukan pada KPD preterm dibandingkan KPD aterm. Persalinan SC membutuhkan pengawasan yang lebih ketat, bukan hanya saat melahirkan saja tetapi juga pada masa nifas, ibu masih rawan untuk mengalami perdarahan. Persalinan SC memiliki resiko lima kali lebih besar terjadi komplikasi dibanding persalinan normal. Faktor yang paling banyak adalah faktor anastesi, pengeluaran darah oleh ibu selama proses operasi, komplikasi penyulit, endometritis (radang endometrium) trombopleblitis (pembekuan darah pembuluh balik), embolisme (penyumbatan pembuluh darah) dan pemulihan bentuk letak rahim menjadi tidak sempurna(Wathina, Fajrin and Syafira, 2023).
Berdasarkan data laporan kasus Sectio Caesarea di RSIA Pekajangan bulan Februari 2026, tercatat sebanyak 63 pasien menjalani persalinan dengan tindakan SC. Data tersebut menunjukkan bahwa angka persalinan dengan tindakan SC di RSIA Pekajangan memerlukan perhatian khusus dalam pemberian asuhan kebidanan maupun keperawatan maternitas. Sebagian besar pasien SC berada pada rentang usia reproduksi sehat, yaitu antara 25–35 tahun, namun terdapat pula pasien dengan usia risiko tinggi, seperti usia di atas 35 tahun hingga 43 tahun. Faktor usia, riwayat obstetri, komplikasi kehamilan, serta kondisi maternal dan fetal dapat menjadi penyebab dilakukannya tindakan Sectio Caesarea. Selain itu, diagnosis yang tercatat pada pasien menggunakan kod yang mengarah pada kondisi ibu dengan riwayat atau kelainan tertentu. Persalinan Sectio Caesarea memiliki dampak yang lebih kompleks dibandingkan persalinan normal, baik dari segi fisik maupun psikologis ibu. Ibu post SC memerlukan perhatian khusus pada masa nifas karena adanya luka operasi, risiko infeksi, nyeri, keterlambatan mobilisasi, gangguan laktasi, hingga risiko komplikasi lainnya. Oleh karena itu, diperlukan asuhan yang komprehensif mulai dari masa kehamilan, persalinan, hingga masa nifas agar proses pemulihan ibu dapat berjalan optimal serta mencegah terjadinya komplikasi. Berdasarkan tingginya angka kejadian Sectio Caesarea di RSIA Pekajangan bulan Februari 2026, penulis tertarik untuk melakukan pengkajian dan memberikan asuhan pada ibu dengan post Sectio Caesarea guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan maternal serta membantu mempercepat pemulihan ibu pada masa nifas.
Masa nifas (postpartum) merupakan periode kritis baik bagi ibu maupun bayinya, sehingga seorang ibu yang mengalami fase nifas membutuhkan perawatan khusus untuk memperbaiki kondisi kesehatan tubuhnya termasuk dengan perhatian terhadap penyembuhan luka dengan perawatan dan meningkatkan asupan nutrisi terutama protein, hal ini penting dilakukan karena apabila luka tersebut tetap terbuka maka akan menjadi jalur masuknya kuman yang dapat menyebabkan infeksi (Purnani W, 2019). Menurut penelitian Norman, et al (2017) risiko komplikasi pada ibu nifas post SC 37,8% lebih tinggi daripada ibu nifas dengan persalinan spontan. Risiko komplikasi yang dapat terjadi pada ibu nifas post SC seperti cedera kandung kemih, cedera pada pembuluh darah, cedera pada usus dan infeksi pada rahim yang disebabkan oleh bakteri sehingga dapat mengganggu proses involusi uterus. Oleh karena itu, dalam mengurangi risiko komplikasi pada masa nifas tersebut upaya yang dilakukan penulis untuk Ny.S dengan mengajarkan perawatan luka post SC, pemberian dan pemantauan nutrisi untuk percepatan penyembuhan luka, dan melakukan kunjungan nifas sesuai dengan standar kunjungan nifas .
Bayi dan neonatus dengan riwayat pertumbuhan janin terhambat memiliki risiko BBLR 35,2%, asfiksia 27,4%, infeksi 3,4%, kelainan kongenital 11,4%, dan lain-lain 22,5% menurut penelitian Laila pada tahun 2017 tentang Gambaran Faktor Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Sadewa Sleman. Hal tersebut dapat menjadi lebih tinggi risikonya jika selama kehamilan ibu memiliki penyakit penyerta seperti asma, kelainan jantung, dan lainnya. Dalam pemantauan kesehatan dan kesejahteraan bayi dan neonatus yaitu dengan melakukan asuhan pada 6-48 jam setelah lahir (KN1), umur 3-7 hari (KN 2), dan umur 8-28 hari (KN 3) (Kemenkes RI, 2021, h. 117). Dalam mengurangi risiko yang terjadi, upaya yang dilakukan penulis untuk Ny. S dalam kehamilan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, melakukan kolaborasi dengan dr. Sp.OG, untuk perencanaan persalinan, dan melakukan kunjungan neonatal.
(Erni Setiawati, A.R.M.M. (2023) “Edukasi perawatan luka pada ibu post operasi seksio seksaria di wilayah kerja puskesmas marabahan,” pp. 54–59.
(Maria Novita Kritstant, Nor Asiyah, Irawati ) (2025) “(Maria Novita Kritstant, Nor Asiyah, Irawati ),” 10(2).
Ade Nurhikmah, R.W. dan D.K. (2020) “Ade Nurhikmah, Retno Widowati dan Dewi Kurniati,” 2(8), pp. 302–314.
Adolph, R. (2016) Adaptasi antonom dan fisiologi dalam kehamilan.
Afifah, T. et al. (2025) Asuhan Neonatus dan Bayi.
Aidiana, L., Lusmiati Anisah, R. and Suraning Wulandari, T. (2023) “Edukasi Persiapan Persalinan Meningkatkan Pengetahuan Pada Ibu Hamil Trimester Ketiga,” Jurnah Ilmiah Keperawatan dan Kesehatan Alkautsar (JIKKA) [Preprint].
Ananda (2025) “Excellent Midwifery Journal,” 8(1).
Anisa Disti, T.S. (2025) “No Title,” 9(2).
April, N. (2023) “SENTRI?: Jurnal Riset Ilmiah,” 2(4).
Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan (2025). Available at: https://doi.org/https://dinkes.pekalongankab.go.id/.
Enjelika, Apriyanti, F. and Miftahurrahmi (2023) “Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir Di PMB Nelly Suryani Wilayah Kerja Puskesmas Kuok,” Evidance Midwifery Journal, 2(3).
Fitri, E., Andriyani, R. and Megasari, M. (2023) “Jurnal Kebidanan Terkini ( Current Midwifery Journal ) MENGGUNAKAN ABPK DI PMB ERNITA KOTA PEKANBARU TAHUN 2022,” 2, pp. 1–6.
Kebidanan, P.S.D., Kebidanan, J. and Riau, P.K. (2022) “Program Studi D-III Kebidanan, Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Riau.”
Kemenkes (2021) “Permenkes No 21 th 2021,” (853).
Kemenkes RI (2007) “Kepmenkes Ri No 369/Menkes/Sk/Iii/2007,” pp. 1–36.
Longgupa, L.W. et al. (2022) Psikologi Kehamilan.
Manik, M.R. et al. (2022) “ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA BAYI NY.M DENGAN PERAWATAN TALI PUSA DI POLIKLINIK PT.SERDANG TENGAH KEC.GALANG KEC.GALANG KAB.DELI SERDANG TAHUN 2020,” jurnal sains dan kesehatan, 6(2), pp. 60–69.
Manik, R. (2024) Buku Ajar ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN DAN BAYI BARU LAHIR.
Mendrofa, T.I.R., Hutasoit, E.S.P. and Syahrir, L. (2020) “Hubungan Anemia pada Kehamilan dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah,” Jurnal Kedokteran Methodist, 4(4), p. 519. Available at: https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jkm/article/view/1327%0AARTIKEL.
Midwifery, I. et al. (2019) “THE EFFECT OF PREECLAMPTIC WOMEN ON PERINATAL Kematian seorang ibu dan bayi dalam proses persalinan atau oleh akibat lain yang berhubungan dengan kehamilan merupakan hambatan dalam pencapaian Sustainable Development Goals ( SDG ’ s ) di Indonesia pada tahun 2030 dalam Preeklampsia merupakan masalah obstetri utama di seluruh dunia terutama negara berkembang yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janin . Dalam Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran ( PNPK ) yang sistemik , berupa hipertensi serta gangguan sistem organ pada usia kehamilan > 20,” 3(2), pp. 148–159. Available at: https://doi.org/10.20473/imhsj.v3i2.2019.148-159.
Profil Kesehatan Indonesia (2024).
Rejeki (2023) “Penyuluhan Dan Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Untuk Deteksi Dini Anemia Pada Menurut WHO 40 % kematian ibu di Negara berkembang berkaitan dengan anemia pada kehamilan dan kebanyakan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut , bahkan tidak jarang k,” Jurnal pengabdian masyarakat gunung sari Volume 3 No 1, 3(1), pp. 1–8.
Sulastri, E. and Keb, S.T. (2025) “ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. D DI PMB ENDANG SULASTRI, S.Tr.Keb., Bdn,” 1(1).
Sulistyawati, N.A.K.& W. (2017) “BUKU AJAR.”
Sulistyawati1, W. (2019) “Menurut World Health Organization ( WHO ) kebutuhan zat besi yang besar ( 1000 mg ) selama hamil tidak cukup apabila didapatkan dari makanan saja , sehingga harus dibantu dengan suplemen tablet besi ( Kemenkes RI , 2014 ),” pp. 201–207.
Sunarti., A. et al. (2022) Asuhan neonatus, bayi, balita dan anak prasekolah.
Tan, H., Sitanggang, H. and Saragih, T.A.P. (2025) “Deteksi Dini Kehamilan Berisiko Dengan Kartu Skor Poedji Rochjati (Kspr) Di Puskesmas Medan Deli Tahun 2024,” Jurnal Ilmiah Kebidanan Imelda, 11(2), pp. 116–122. Available at: https://doi.org/10.52943/jikebi.v11i2.1977.
Triatmi Andri Yanuarini,Shinta Kristianti,Eka Lita Aprilia Sari (2022) “DOI?: http://dx.doi.org/10.56710/wiyata.v9i1.470 KARAKTERISTIK IBU DALAM KEBERHASILAN INDUKSI PERSALINAN OKSITOSIN DRIP MATERNAL CHARACTERISTICS IN SUCCESSFUL INDUCTION OF LABOR OXYTOCIN DRIP Poltekkes Kemenkes Malang , Prodi Sarjana Terapan Kebidanan Ked,” pp. 1–7.
Wathina, Z., Fajrin, S.L. and Syafira, D. (2023) “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persalinan Sectio Caesarea,” 2(1), pp. 6–7.
Winanda, P.A. and Herfanda, E. (2025) “Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir Normal di RSIA ‘ Aisyiyah Klaten Midwifery Care for Normal Newborns at RSIA ’ Aisyiyah Klaten,” Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 3, pp. 1222–1232.
| Properti | Nilai Properti |
|---|---|
| Organisasi | Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan |
| [email protected] | |
| Alamat | Jl. Raya Pekajangan No. 1A Kedungwuni Pekalongan |
| Telepon | (0285) 7832294 |
| Tahun | 2026 |
| Kota | Pekalongan |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Negara | Indonesia |