Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi salah satu indikator penting
yang menggambarkan keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia.
Meskipun berbagai program kesehatan ibu telah dilaksanakan, AKI di Indonesia
masih tergolong tinggi dan belum mencapai target Sustainable Development
Goals (SDGs), yaitu kurang dari 70 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Pada
tahun 2020 jumlah kematian ibu secara nasional mencapai 4.627 kasus,
meningkat dibandingkan tahun 2019 yang berjumlah 4.221 kasus. Di Provinsi
Jawa Tengah, angka kematian ibu masih menjadi perhatian karena beberapa
kabupaten, seperti Brebes, Grebogan, dan Banjarnegara, masih mencatat jumlah
kasus yang tinggi. Sementara itu, Kabupaten Pekalongan menunjukkan tren
penurunan angka kematian ibu pada periode 2021–2024 menjadi 18 kasus per
100.000 kelahiran hidup, meskipun kondisi tersebut tetap memerlukan perhatian
agar penurunan dapat dipertahankan dan ditingkatkan(Ardanaputra, 2024).
Tingginya angka kematian ibu dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik
penyebab langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung yang paling
banyak ditemukan secara nasional adalah perdarahan, hipertensi dalam
kehamilan, dan gangguan sistem peredaran darah. Di Provinsi Jawa Tengah
maupun Kabupaten Pekalongan, hipertensi dalam kehamilan masih menjadi
penyebab dominan kematian ibu, disusul infeksi, perdarahan, dan penyebab
lainnya. Selain faktor tersebut, kondisi seperti anemia, kekurangan gizi, penyakit
penyerta, serta keterlambatan memperoleh pelayanan kesehatan juga berperan
meningkatkan risiko kematian ibu. Oleh karena itu, upaya deteksi dini melalui
pemeriksaan kehamilan yang teratur, pelayanan kesehatan yang berkualitas, dan
penanganan komplikasi secara cepat menjadi langkah penting dalam
menurunkan AKI (Aprian, 2023).
Selama masa kehamilan, ibu berpotensi mengalami berbagai komplikasi
yang dapat membahayakan kesehatan ibu maupun janin, seperti abortus, anemia, preeklamsia, infeksi, diabetes gestasional, hipertensi dalam kehamilan,
perdarahan, hingga persalinan prematur. Salah satu komplikasi yang perlu
mendapatkan perhatian adalah abortus, yaitu berakhirnya kehamilan sebelum
usia kehamilan mencapai 20 minggu. Abortus dapat disebabkan oleh berbagai
faktor, antara lain kelainan janin, kondisi kesehatan ibu, infeksi, maupun status
gizi yang kurang baik. Riwayat abortus juga meningkatkan risiko terjadinya
abortus spontan pada kehamilan berikutnya. (Akbar and Medan, 2019)
melaporkan bahwa ibu dengan riwayat abortus memiliki risiko sekitar lima kali
lebih besar mengalami abortus dibandingkan ibu yang tidak memiliki riwayat
abortus sehingga diperlukan pemantauan kehamilan yang lebih intensif.
Salah satu masalah gizi yang masih banyak ditemukan pada ibu hamil
adalah Kekurangan Energi Kronis (KEK). KEK terjadi ketika kebutuhan energi
dan zat gizi ibu selama kehamilan tidak terpenuhi dalam waktu yang cukup lama
sehingga mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan janin. Terjadinya
KEK dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya rendahnya asupan makanan
bergizi seimbang, kondisi sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan ibu,
kurangnya pengetahuan mengenai kebutuhan gizi selama kehamilan, penyakit
infeksi, anemia, serta rendahnya kepatuhan melakukan pemeriksaan antenatal
care (ANC). Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan dapat memperburuk
status gizi ibu apabila tidak ditangani sejak dini. Ibu hamil dengan riwayat
kehamilan berisiko, seperti abortus, memerlukan pemantauan yang lebih optimal
karena kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi selama
kehamilan. Penelitian (S, Girsang and Supeno, 2019) menyatakan bahwa status
gizi yang buruk berhubungan dengan meningkatnya risiko komplikasi
kehamilan dan kurangnya asupan zat gizi merupakan faktor yang paling
dominan terhadap terjadinya KEK pada ibu hamil.
Apabila KEK tidak segera ditangani, berbagai komplikasi dapat terjadi
baik pada ibu maupun janin. Pada ibu, KEK meningkatkan risiko anemia,
infeksi, persalinan lama, ketuban pecah dini (KPD). Penelitian (Sastri, Devita
and Dewi, 2023) menunjukkan bahwa ibu dengan KEK memiliki risiko
mengalami KPD sekitar 2,18 kali lebih tinggi dibandingkan ibu dengan status gizi atau berat badan normal. Sementara itu menurut (Suryani et al., 2021), KEK
pada janin dapat menghambat pertumbuhan janin didalam Rahim (IUGR)
kondisi ini terjadi karena kurangnya asupan energi dan zat gizi yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil yang mengalami KEK
memiliki risiko sekitar 2–4 kali lebih besar melahirkan bayi dengan IUGR
dibandingkan ibu dengan status gizi normal. Risiko tersebut dapat dikurangi
melalui pemenuhan kebutuhan gizi selama kehamilan, seperti konsumsi
makanan bergizi seimbang, peningkatan asupan protein, zat besi, asam folat,
vitamin, serta pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil yang
mengalami KEK. Dengan perbaikan status gizi, pertumbuhan janin dapat
berlangsung lebih optimal dan risiko IUGR dapat diminimalkan. (Suryani and
Krisnasary, 2024) melaporkan bahwa ibu hamil dengan KEK memiliki risiko
sekitar 3,3 kali lebih besar melahirkan bayi BBLR dibandingkan ibu dengan
status gizi normal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan
gizi selama kehamilan menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga kesehatan
ibu dan janin.
Salah satu komplikasi yang sering berkaitan dengan kondisi KEK adalah
Ketuban Pecah Dini (KPD). KEK pada ibu hamil tidak hanya berdampak
terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin serta meningkatkan Risiko
BBLR, tetapi juga dapat mempengaruhi jalannya kehamilan, termasuk
meningkatkan Risiko KPD kondisi ini terjadi karena selaput ketuban yang
tersusun atas jaringan kolagen memerlukan kecukupan protein, vitamin C, dan
Zinc agar tetap kuat, sedangkan pada ibu dengan KEK pembentukan kolagen
menjadi tidak optimal sehingga membrane ketuban lebih tipisdan mudah pecah
sebelum waktunya. Selain itu, penurunan daya tahan tubuh akibat KEK
meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran reproduksi maupun infeksi
intrauterine yang dapat memicu pelepasan mediator inflamasi, seperti
prostaglandin dan sikotin, sehingga memperlemah membrane ketuban sekaligus
merangsang kontraksi uterus. Hal tersebut sejalan dengan penelitian (Ekasari,
2024) yang menyatakan bahwa status gizi ibu yang kurang baik berhubungan
dengan menngkatnya Risiko berbagai komplikasi kehamilan,seperti gangguan pertumbuhan janin,infeksi,dan persalinan premature yang sering diawali oleh
KPD.
Setelah proses persalinan selesai, ibu tetap memerlukan asuhan kebidanan
yang berkesinambungan selama masa nifas. Ibu dengan riwayat KPD memiliki
risiko lebih tinggi mengalami infeksi puerperium, gangguan involusi uterus,
maupun perdarahan postpartum sehingga kondisi kesehatannya harus dipantau
secara berkala. Kunjungan nifas bertujuan untuk menilai proses pemulihan ibu,
mendeteksi komplikasi sejak dini, memberikan edukasi mengenai nutrisi,
kebersihan diri, perawatan payudara, serta mendukung keberhasilan pemberian
ASI eksklusif. Pelayanan nifas yang optimal diharapkan mampu mempercepat
pemulihan kesehatan ibu sekaligus mencegah terjadinya komplikasi yang dapat
meningkatkan angka kesakitan maupun kematian ibu (Suryani and Krisnasary,
2024).
Selain ibu, bayi yang lahir dari ibu dengan KEK dan mengalami Ketuban
Pecah Dini (KPD) juga memerlukan asuhan secara komprehensif karena
berisiko mengalami infeksi neonatal, hipotermia, gangguan pernapasan, maupun
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Penelitian oleh (Ekasari, 2024)
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara KPD dengan
kejadian infeksi neonatal pada bayi baru lahir. KPD menyebabkan hilangnya
fungsi selaput ketuban sebagai pelindung janin sehingga memudahkan
masuknya mikroorganisme ke dalam rongga rahim yang dapat menyebabkan
infeksi pada bayi. Oleh karena itu, bayi yang lahir dari ibu dengan KPD
memerlukan penatalaksanaan sesuai standar, meliputi pemeriksaan fisik lengkap
untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi sejak dini, pemantauan suhu tubuh dan
pencegahan hipotermia, pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pemberian
vitamin K, imunisasi hepatitis B, perawatan tali pusat secara bersih, serta
observasi selama masa neonatus.
Berdasarkan data yang diperoleh di Puskesmas Wonopringgo Kabupaten
Pekalongan tahun 2025, jumlah ibu hamil tercatat sebanyak 728 orang. Dari
jumlah tersebut, sebanyak 85 (28%) ibu hamil mengalami KEK dan sebanyak
303 ibu hamil (41,6%) termasuk dalam kategori risiko tinggi. Salah satu faktor risiko tinggi yang ditemukan yaitu riwayat abortus sebanyak 4 kasus (1,3%).
Selain itu, cakupan kunjungan nifas lengkap di wilayah kerja Puskesmas
Wonopringgo sebesar 61 (86,8%). Data pasien rawat inap yang diperoleh dai
RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan tahun 2025 yaitu sejumlah
297 orang, persalinan spontan sebanyak 134 (14,4%), persalinan dengan
Ketuban Pecah Dini (KPD) sebanyak 90 kasus (9,7%).
Berdasarkan Latar Belakang diatas maka Penulis penting memberikan
Asuhan Standar dan Kompetensi sesuai dengan Judul “Asuhan Kebidanan
Komprehensif Pada Ny. I di Desa Surobayan Wilayah Kerja Puskesmas
Wonopringgo Kabupaten Pekalongan Tahun 2026”
Akbar, A. and Medan, U. (2019) “Faktor Penyebab Abortus di Indonesia Tahun 2010-2019?: Studi Meta Analisis,” pp. 182–191.
Amizora, D. (2024) “Hubungan Paritas Dengan Kejadian KPD,” 11(11), pp. 2083–2087.
Aprian, B.Y.S. (2023) “Asuhan Kebidanan Continuity Of Care ( Coc ) Ny . E Umur 36 Tahun di Klinik Aria Medistra Kabupaten Semarang Jawa Tengah,” 2(2), pp. 1158–1164.
Ardanaputra, dr. R. (2024) Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten pekalongan. Pekalongan.
Dasuki, D. and Wahab, A. (2025) “Hubungan Antara Kekurangan Energi Kronis Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR ) Akbid Surya Mandiri , Bima ( case control ) dengan metode kuantitatif . Desain kasus kontrol digunakan untuk menguji,” 02, pp. 130–142.
Ekasari, W.U. (2024) “Ketuban Pecah Dini (KPD) Pada Ibu Bersalin.”
Ekawati and Haniah (2017) “Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Kunjungan Ulang Masa Nifas” 6(1), pp. 26–31.
Erwani, V. and Triwijayanti, I. (2023) “Faktor Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini,” 8(1).
Hariastuti, F.P. and St, S. (2017) “Evektivitas Kartu Skor Poedji Rochjati (KSPR) Untuk Deteksi Resiko Tinggi pada Ibu Hamil,” 5(1), pp. 28–33.
Herliani, Y. et al. (2024) Buku Ajar.
Ilawati, S. (2024) “Faktor Faktor yang mempengaruhi terjadinya ketuban pecah dini pada ibu bersalin,” (April), pp. 300–308.
Indah, W., Eka, P. and Mardalena, I. (2024) “Perubahan Psikofisiologis Pada Ibu Hamil Trimester III” 11(2), pp. 135–152.
Irnawati and Marbun, U. (2023) “Mobilisasi Dini terhadap Proses Involusio Uteri pada Ibu Nifas,” 1, pp. 28–35.
Juliastuti, J. and Berkat, S. (2024) “Effectiveness of Avocado for Chronic Energy Deficiency in Pregnancy in The District of Aceh Besar , Indonesia?: A Pilot Study,” XXV, pp. 2020–2025.
Karlensi, P., Aisyah, S. and Riski, M. (2023) “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Abortus,” 13(1).
Maharani, N.G.L. (2026) “Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Hipertensi pada Ibu Hamil di TPMB ‘LM’ Tahun 2024 -2025 The Association of Body Mass Index (BMI) with Hypertension in Pregnant Women in TPMB ‘LM’ during 2024 -2025 Period,” 9, pp. 60–68.
Mariyatun, Herdiana, H. and Rini, A.S. (2023) “Hubungan Pola Nutrisi,Sikap dan Dukungan Keluarga terhadap Kejadian KEK pada Ibu Hamil,” 2(10), pp. 4131–4142.
Pratiwi, K.I., Dewi, K.A.P. and Teja, N.M.A.Y.R. (2024) “Jurnal Menara Medika https://jurnal.umsb.ac.id/index.php/menaramedika/index JMM 2024,” 7(1), pp. 153–161.
Qiftiyah, M. and Ulya, K. (2018) “Studi Diskriptif Tentang Mobilisasi Dini Terhadap Pengeluaran Lokhea Pada Ibu Nifas” 10(1), pp. 12–17.
S, L.P., Girsang, E.S. and Supeno, H. (2019) “Literatur Review Profil Pasien Abortus” 12(1), pp. 41–46.
Salsabila, S., Siregar, R. and Simanjuntak, H. (2025) “Pengaruh Konsumsi Telur Ayam Rebus Terhadap Peningkatan Berat Badan Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis ( KEK ),” 10(2), pp. 29–36.
Sari, D.P. (2018) “Perhitungan Usia Kehamilan Berdasarkan Pengukuran Tinggi Fundus Uteri dengan Hari Pertama Haid Terakhir di BPS Farida Yuliani Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar,” 11(02).
Sari, E.P. et al. (2024) “Pengaruh Hypnoterapy Terhadap Intensitas Nyeri Persalinan Pada Ibu Bersalin Normal Di Puskesmas Payung Sekaki,” 13, pp. 184–191.
Sari, N.N. and Maifita, Y. (2025) “Hubungan Perubahan Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan Dengan Kejadian Mual Muntah Pada Ibu Hamil Trimester I Di TPMB Bdn . Pepi Herfianti Tahun 2025,” 4(4).
Sastri, N., Devita, A. and Dewi, C. (2023) “Jurnal Promotif Preventif,” 6(6), pp. 868–876.
Sekar Arum, Erlinawati, Fauzia, Fitri Apriyanti, I. et al. (2021) Generasi Berkualitas.
Sofianti, T., Damayanti, I.P. and Megasari, K. (2024) “Rebus Untuk Penyembuhan Luka Perineum 2023,” 3, pp. 1–8.
Sri Handayani (2020) “Pengaruh Asuhan Sayang Ibu Terhadap Kontraksi (47), pp. 40–44.
Sudirman, J. and Amriani (2024) “Perbedaan Prnafsiran Taksiran Berajt Janin Menggunakan Tinggi Fundus Uteri dengan Ultrasonografi,” 6(2), pp. 163–168.
Sumarmi and Patmawati (2023) “Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang tanda-tanda persalinan sebelum dan setelah penyuluhan di Wilayah Kerja Puskesmas Mangarabombang,” 03(02), pp. 53–60. Available at: https://doi.org/10.31603/bnur.8848.
Suryani, D. and Krisnasary, A. (2024) “Analisis Asupan Makronutrien dan Pendapatan Keluarga dengan Kekurangan Energi Kronik pada Ibu Hamil di Lokus Stunting Kecamatan Argamakmur Bengkulu Urata,” (3), pp. 303–307.
Suryani, L. et al. (2021) “Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kekurangan Energi Kronik pada Ibu Hamil,” 21(1), pp. 311–316. Available at: https://doi.org/10.33087/jiubj.v21i1.1117.
Wijayanegara, F.H. and Garna, H. (2017) “Pengaruh pemberian jus alpukat ( perseaamericana [mill])terhadap peningkatan kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit ibu hamil 1),” 6(1), pp. 55–65.
Yunawati, I. et al. (2025) “Gambaran Kejadian Kekurangan Energi Kronis ( KEK ),” 3, pp. 1–6.
Zikriyana, I. and Zahara, E. (2022) “Asuhan Kebidanan Persalinan,” 7(2).
| Properti | Nilai Properti |
|---|---|
| Organisasi | Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan |
| umpp.pekalongan@yahoo.com | |
| Alamat | Jl. Raya Pekajangan No. 1A Kedungwuni Pekalongan |
| Telepon | (0285) 7832294 |
| Tahun | 2026 |
| Kota | Pekalongan |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Negara | Indonesia |